Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Giatkan Kembali Dakwah Melalui Tulisan


 


Dakwah secara harfiyah berarti mengajak, memanggil, menyeru, atau mengundang. Pendakwah (orang yang melakukan dakwah) bertugas mengajak melakukan kebaikan (ma’ruf), dimana objek dakwah adalah manusia itu sendiri. Siapapun bisa melakukan dakwah, karena dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. 

Dakwah pada dasarnya merupakan tugas umat muslim yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Dakwah dengan pena atau tulisan sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW dan dipraktekan sendiri oleh beliau. Dalam prakteknya dakwah tidak mesti ditampilkan dalam bentuk pidato, atau dibatasi dalam bentuk ceramah (bil-lisan), walaupun kebanyakan di masyarakat dakwah disampaikan dengan pidato atau ceramah. Banyak cara berdakwah, misalnya dakwah bil-hal (dakwah dengan perilaku, perbuatan, keGiatkan Kembali Dakwah Melalui Tulisan

 

Dakwah secara harfiyah berarti mengajak, memanggil, menyeru, atau mengundang. Pendakwah (orang yang melakukan dakwah) bertugas mengajak melakukan kebaikan (ma’ruf), dimana objek dakwah adalah manusia itu sendiri. Siapapun bisa melakukan dakwah, karena dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. 

Dakwah pada dasarnya merupakan tugas umat muslim yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Dakwah dengan pena atau tulisan sudah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW dan dipraktekan sendiri oleh beliau. Dalam prakteknya dakwah tidak mesti ditampilkan dalam bentuk pidato, atau dibatasi dalam bentuk ceramah (bil-lisan), walaupun kebanyakan di masyarakat dakwah disampaikan dengan pidato atau ceramah. Banyak cara berdakwah, misalnya dakwah bil-hal (dakwah dengan perilaku, perbuatan, keteladanan), dakwah bil-qalam (dakwah dengan pena), atau dakwah bil-kitabah (dakwah dengan tulisan). Diantaranya adalah tulisan mampu memberi inspirasi, motivasi, pengetahuan, serta wawasan luas kepada pembacanya. Seperti: Kartini, dalam sejarah Islam, para tokoh besar pembaharuan Islam juga melakukan dakwahnya melalui tulisan, antara lain: Ibn Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Sampai sekarang hasil karya mereka tetap menjadi rujukan dan pedoman bagi pembacanya. 

Dengan begitu, mari kita giatkan dakwah melalui tulisan, karena menulis memiliki banyak manfaat bagi penulis dan khalayak umum. Manfaat bagi penulis untuk pengembangan, pemahaman, karya yang ditulisnya. Manfaat bagi khalayak umum sebagai sarana untuk menyampaikan, serta menyiarkan Agama Islam. Semakin banyaknya penulis-penulis Nusantara yang berlatar belakang pesantren maka semakin teguh pula pemikiran Islam dan eksistensi pesantren dalam ranah sosial kemasyarakatan.

Dakwah melalui pena memiliki kelebihan spesifik bila dibandingkan dengan dakwah melalui lisan. Dimana dakwah yang disampaikan dengan lisan oleh seorang da’i (pendakwah) cenderung mudah dilupakan seolah tiada membekas. Berbeda dengan dakwah melalui pena atau tulisan yang dilaksanakan secara baik oleh penulisnya. Isi tulisan itu akan tetap melekat dan membekas di hati para pembaca dan dapat dibaca kembali tulisan itu sekiranya lupa atau untuk suatu kepentingan. Jika kita melihat bukti-bukti sejarah, hasil karya dalam bentuk tulisan besar pengaruhnya bagi kebangkitan bangsa-bangsa di dunia.

Penulis: Hanna Maddayadah (Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam - Universitas Sains Al-Qur’an)

teladanan), dakwah bil-qalam (dakwah dengan pena), atau dakwah bil-kitabah (dakwah dengan tulisan). Diantaranya adalah tulisan mampu memberi inspirasi, motivasi, pengetahuan, serta wawasan luas kepada pembacanya. Seperti: Kartini, dalam sejarah Islam, para tokoh besar pembaharuan Islam juga melakukan dakwahnya melalui tulisan, antara lain: Ibn Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Sampai sekarang hasil karya mereka tetap menjadi rujukan dan pedoman bagi pembacanya. 

Dengan begitu, mari kita giatkan dakwah melalui tulisan, karena menulis memiliki banyak manfaat bagi penulis dan khalayak umum. Manfaat bagi penulis untuk pengembangan, pemahaman, karya yang ditulisnya. Manfaat bagi khalayak umum sebagai sarana untuk menyampaikan, serta menyiarkan Agama Islam. Semakin banyaknya penulis-penulis Nusantara yang berlatar belakang pesantren maka semakin teguh pula pemikiran Islam dan eksistensi pesantren dalam ranah sosial kemasyarakatan.

Dakwah melalui pena memiliki kelebihan spesifik bila dibandingkan dengan dakwah melalui lisan. Dimana dakwah yang disampaikan dengan lisan oleh seorang da’i (pendakwah) cenderung mudah dilupakan seolah tiada membekas. Berbeda dengan dakwah melalui pena atau tulisan yang dilaksanakan secara baik oleh penulisnya. Isi tulisan itu akan tetap melekat dan membekas di hati para pembaca dan dapat dibaca kembali tulisan itu sekiranya lupa atau untuk suatu kepentingan. Jika kita melihat bukti-bukti sejarah, hasil karya dalam bentuk tulisan besar pengaruhnya bagi kebangkitan bangsa-bangsa di dunia.

Penulis: Hanna Maddayadah (Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam - Universitas Sains Al-Qur’an)


Posting Komentar untuk " Giatkan Kembali Dakwah Melalui Tulisan"